#QuarterLifeCrisis: She Writes About It

The older you get, the more quiet you become. Life humbles you so deeply as you age. You realize how much nonsense you’ve wasted time on.

Jadi begini, akhirnya saya memutuskan untuk mulai menuliskan semua pikiran, pertanyaan, dan perasaan saya. Di sini. Kenapa? Karena saya merasa saya tidak ingin bercerita atau curhat kepada orang lain, hanya untuk mendapat solusi. Saya juga malas mencurahkan isi hati hanya untuk mendapat judgement dari siapapun (sekalipun mereka temanmu, sesekali mereka akan men-judge atas apa yang kamu utarakan). Saya hanya ingin bercerita, berkeluh kesah, tanpa perlu di beri nasihat atau komentar. Saya ingin bercerita, agar saya tidak burned out.

Lagipula, saya malu untuk berkeluh kesah. Malu dan takut teman-teman saya akan berpikir, ‘ya ampun udah tua masih galau’. (Emang galau kenal usia?) Malu karena saya adalah anomali, saya ada di grey area untuk orang-orang seusia saya (atau teman-teman saya). Atau ini saya yang lebay? Atau ini hanya masalah self esteem saya saja? Tapi yang pasti, teman-teman seusia saya either sudah mendapat atau sedang mengambil gelar Master; sedang menikmati hidup sebagai jomblo; sudah menikah; baru lamaran; atau bahkan sedang mengandung. Saya? Sibuk mengamati kehidupan orang lain sambil jajan make up online. Ha.

Mungkin, ini yang di namakan Quarter Life Crisis? Saat inilah saya merasa kehidupan personal dan profesional mulai mengalami guncangan (hebat). Tahun lalu, ketika usia saya persis seperempat abad, hidup saya sedang asik-asiknya. Kerjaan oke (walaupun tiap hari teriak mau resign dan ngarep ada yang hijack lagi), relationship juga yaaaa fine lah ya. Masih sering haha hihi bareng teman di weekdays, dan pelukan sama pacar di weekend. Tapi tahun ini. Senua seperti berkonspirasi menguji kekuatan iman dan ketegaran hati saya. Sudah tau keduanya sama-sama tipis, huh. Ketika semakin galau dan semakin banyaknya guncangan, dan yang saya butuhkan hanya laptop (untuk liat Youtube atau streaming tv series) atau tempat tidur (tentu untuk tidur). Dan bukan lagi bergalau ria dengan teman-teman.

Mungkin ini adalah titik terendah saya. Banyak hal yang membuat saya kehilangan keinginan untuk berkeluh kesah dengan teman-teman. Don’t get me wrong, saya masih suka hangout dengan teman-teman saya walaupun frekuensi nya tentu saja tidak sesering dulu. Namun diluar itu saya malas berbasa-basi melalu Line atau WhatsApp untuk update kehidupan.  Seringkali, saya hanya balas seperlunya, atau bahkan hanya saya read beberapa chat yang masuk. Sibuk sih engga, cuma malas aja. (Barangkali ada teman saya yang baca, maaf ya! hehe)

Mungkin semua perasaan ini adalah akibat dari saya terlalu banyak mengonsumsi sosial media.  Insecure, gelisah akan kehidupan saya. Karena, yah saya nganggur sedikit, langsung buka Instagram, atau Facebook, atau main Gordon Ramsay Dash. Benar-benar tidak bisa lepas dari handphone. Saya berusaha sekuat tenaga untuk mulai mengurangi hal-hal tidak penting (kepo, liat InstaStory orang yang tidak penting, baca berita gosip) agar tidak stress atau semakin parah anxiety ini. Tapi kalau harus total tanpa sosial media, saya belum bisa. Lha wong, saya dapet duit dari main Facebook; Instagram; dan menyembah Google kok.

Mungkin ada yang mengerti atau mengalami yang saya rasakan. Kalau gak ada juga gak papa. Toh saya sadar saya ini ‘berbeda’. Hehe.

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s