#QuarterLifeCrisis: How Do You Know For Sure

0d5e1144728167ccf53402986a3b9a29

What happen when you find yourself a nice-polite-religious-boyfriend? Keep him? Marry him? or engaged to him?

Seandainya menjawab itu semudah Ibu-Ibu atau tetangga bertanya ‘Kapan Nikah?’ kepada kita.

Pada kenyataannya, menikah atau memutuskan menikah tidak semudah itu. Sekalipun ketika kita sudah menemukan pasangan yang (menurut kita) tepat; baik; dan mampu menjadi pemimpin.

Bahkan ketika kita sudah memiliki pasangan yang we consider as the one or the other half, memutuskan untuk menikah dan mempersiapkannya tidaklah semudah itu. Menikah bukan hanya sekedar menyatukan dua orang, melainkan banyak pihak. Menyatukan dua pikiran dan kebiasaan aja sulitnya bukan main, ditambah kita harus memastikan bahwa pasangan kita bisa diterima di circle pertemanan dan keluarga kita.

Nanti, kita sudah cocok ternyata pihak-pihak tersebut masih belum sreg. Kita bisa apa? Berjuang? Acuh? Karena terkadang perkataan; atau penilaian dari orang tersebut memengaruhi penilaian kita terhdap pasangan. Iya kalau sudah mantap. Kalau masih galau? Ya makin galau yang ada. Gak maju-maju yang ada.

Perkara memutuskan menikah itu menjadi pelik lagi ketika kamu sudah yakin dan mantap dengan pilihan dan keputusan. Pun sudah memikirkan kehidupan kedepannya, gaji sudah cukup untuk menghidupi dua orang. Tapi karena banyaknya pihak yang harus ‘disenangkan’, keputusan itu menjadi maju mundur. Tau-tau yang tadinya mantap malah jadi muncul pikiran aneh ‘cocok gak ya?’ ‘bisa gak ya keluarga gue nyatu sama keluarga dia?’ ‘bisa tolerir sifat dia yang ini gak ya?’

Tiba-tiba yang tadinya mantap, menjadi hilang arah.

Kira-kira itulah yang terjadi dengan saya. Ketika akhirnya memutuskan untuk ‘lebih serius’ dan mulai merencanakan ini itu, justru muncul perdebatan, keraguan dan tetek bengek yang bikin hati jadi gamang.

Apa iya dia orangnya? Apa bisa kami nanti menghadapi dan menyelesaikan semua masalah rumah tangga, kalau sekarang saja sudah begini. 

Kalau terus-menerus mencari yang cocok, sepertinya kita gak akan pernah berhenti mencari. Akan selalu ada celah kekurangan. Kemarin berdoa punya pasangan yang sopan dan pintar. Ketika sudah dapat yang seperti itu, ternyata berharap punya pasangan yang satu pemikiran mengenai certain things. Lalu nanti ketika sudah dapat yang seperti itu, maunya punya pasangan yang begina beginu. Endless.

PR terbesarnya adalah bagaimana menerima ketidakcocokkan dan perbedaan. Bagaimana menerima dan merasa cukup dengan yang ada. Bagaimana mentoleransi didikan atau kebiasaan yang berbeda, dan menerimanya sebagai kebiasaan baru.

How do you know for sure that he’s the one for you? How do you know for sure that this is worth fighting for?

Yang saya tau, saya tidak pernah mendapatkan apapun secara mudah. Di mulai dari saya kecil, saya diajarkan bahwa you’ll get what you deserve, not because you beg for it, but because you earn it. Saya harus berjuang untuk mendapatkan sesuatu. Itu pula yang saya yakini dalam sebuah hubungan. Ketika banyak orang meyakini, relationship should be simple and easy, saya tidak. It takes a lot of downs and hard work to get to what you deserve

Keep looking for the answer. Keep finding the one. But when you do, take an action. Do something before you change your mind. Because sometimes our doubts keep us from making that choice, and we might lose the opportunity.

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s